Ngaji Itu dengan bertalaqqi

Minggu, 24 November 2013

Berapa lama Kita dikubur?

Berikut ini cerita sederhana antara ayah dan anak


Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.


Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915:20- 01-1965"

"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya...

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.

"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"

"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah", jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. "Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"

Ayahnya tersenyum, "Lalu?"
"Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur .... Ya nggak yah?" mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 42 tahun hingga sekarang... kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur .... Lalu Ia menunduk ... Meneteskan air mata...

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un . Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah... Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya

Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak ... Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur.... tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya...

"Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku..."
Di dunia yang semakin modern dan penuh dampak globalisasi ini, nampak jelas banyak terjadi di sekitar kita ketika seorang anak menelantarkan orang tua mereka. Setelah sekian banyak peluh yang dikucurkan untuk memberikan kehidupan selayak mungkin kepada anak-anaknya. Banyak terjadinya fenomena seorang anak menjadi tuan bagi orang tua mereka sebenarnya telah di kabarkan sejak lama oleh Nabiyullah Muhammad SAW yang merupakan salah satu pertanda semakin mendekatnya dunia ini ke titik akhir.
Akan tetapi di salah satu sudut timur kota Jakarta, dapat aku saksikan sebuah pemandangan yang saat ini bisa dibilang sebagai pandangan yang langka. Ketika seorang Ibu yang diberikan nikmat usia yang panjang namun disertai dengan ujian berupa kepikunan dan kelumpuhan sehingga ia tak dapat berbuat banyak. Sang Ibu itu pun di karuniai seorang anak yang penuh bakti. Di usianya yang tak muda lagi itu sang anak, yang juga telah menjadi seorang istri dan juga seorang ibu dari dua orang anak, dengan sabar dan penuh perhatian dalam menjaga ibunya yang kini berusia 87 tahun. Sang ibu yang sudah renta itu sudah tak lagi mengenal waktu, layaknya seorang bayi yang menangis kapanpun dia suka, terkadang di pagi, siang, malam bahkan dini hari ia selalu memanggil anaknya dan meminta tolong padanya. Betapa sabarnya sang anak yang bahkan setelah ia datang memenuhi panggilan Ibunya ia harus menunggu beberapa lama untuk mengetahui apa yang hendak dipintakan tolong padanya, karena ketika sang anak itu datang, sang ibu, karena kepikunannya, telah lupa apa yang hendak ia sampaikan. Bahkan tidak jarang ia harus kembali ke tempatnya semula karena sang Ibu benar-benar tidak ingat apa yang hendak ia sampaikan.
Ketulusan yang ku lihat semoga menjadi bukti bahwa di dunia ini masih banyak teladan yang layak kita contoh dalam bersikap kepada kedua orang tua kita. Melihat kondisi tersebut, aku pun kemudian berpikir apakah seperti itu juga yang dilakukan oleh ibuku ketika aku masih bayi, ketika aku tidak dapat mengutarakan apa yang aku mau dan hanya menangis. Ketika aku membangunkannya di kegelapan malam dengan tangisanku, kemudian ibuku bangun dan tanpa tahu jelas apa yang aku mau, aku terus menerus menangis mengusik tidurnya, seolah tak senang melihatnya terlelap. Mengurangi waktu istirahatnya dan menambah pekerjaan baru baginya. Sungguh aku selalu melihat bayangan Ibuku di wajah sang anak. Aku yakin, baginya sang Ibu adalah lahan subur untuk menanam benih amal sholeh berupa kesabaran dan bakti kepada orang tua. Dan bukankah kesabaran adalah sebahagian dari kesempurnaan iman. Betapa bersyukurnya masih dikaruniai seorang ibu di usia yang tak lagi muda itu, disaat banyak juga orang yang telah kehilangan sosok ibu disaat mereka masih belia.
Hikmah Cerita diatas salah satunya: Intropeksi diri sedini mungkin
 Karna Nabi Bersabda :
MARI KITA BERDOA :
Peta KEHIDUPAN MANUSIA:




0 komentar:

Popular Posts

My Blog List